Presiden Jokowi Minta Norwegia Fair Terkait Sawit: Perbedaan revisi

Dari Jokopedia
Lompat ke: navigasi, cari
(←Membuat halaman berisi ':''Untuk informasi lebih lanjut mengenai Presiden Joko Widodo, silakan kunjungi artikel Jokowi'' pertemuan bilateral dengan kepala negara lain, seperti Presiden A...')
 
(Tidak ada perbedaan)

Revisi terkini pada 11 Juli 2017 00.57

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Presiden Joko Widodo, silakan kunjungi artikel Jokowi

pertemuan bilateral dengan kepala negara lain, seperti Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy Brey, Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull, serta Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg. Pertemuan-pertemuan tersebut salah satunya untuk meningkatkan kerja sama antar kedua negara.

Dalam pertemuannya dengan PM Norwegia, Presiden Jokowi mengeluhkan Resolusi Parlemen Norwegia pada 2 Juni 2017 mengenai kelapa sawit. Resolusi tersebut menyerukan penghentian sawit dan biodiesel berbasis sawit karena mengakibatkan masalah lingkungan, korupsi, HAM dan perdagangan anak.

Menurut Presiden, Resolusi Parlemen Norwegia tak sejalan dengan semangat kerja sama REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation in Developing Countries Plus) antara Indonesia dan Norwegia. Untuk itu, Presiden Joko Widodo meminta pemerintah Norwegia fair terkait dukungannya terhadap Resolusi Parlemen Eropa tentang Palm Oil and Deforestation of Rainforests.

"Saya percaya bahwa Pemerintah Norwegia akan mendukung hubungan perdagangan yang terbuka dan fair," kata Jokowi di sela-sela KTT G20 di Hamburg, Sabtu 8 Juli 2017.

Pada kesempatan itu, Presiden menyampaikan bahwa nilai perdagangan kedua negara pada tahun 2016 mengalami peningkatan 40,5 persen dibanding tahun 2015. Investasi juga meningkat hingga 772 persen, termasuk peningkatan investasi portofolio dari Pension Global Fund Norwegia.

Presiden juga menyampaikan bahwa Indonesia telah memperoleh peringkat investment grade atau layak investasi dari tiga lembaga rating dunia. Dengan demikian, ia berharap negosiasi Indonesia-EFTA CEPA (European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership Agreement) dapat diselesaikan tahun ini.

Dalam pertemuan kedua kepala negara tersebut, Presiden Jokowi dan PM Solberg juga membahas mengenai sektor kelautan dan perikanan. Presiden Jokowi mengapresiasi peningkatan intensitas kerja sama kelautan dan perikanan antara kedua negara, termasuk dukungan Norwegia terhadap upaya pemberantasan pencurian ikan atau Illegal, Unreportedand Unregulated (IUU) Fishing.

"Saya ingin mendorong formalisasi kerja sama di bidang ini, mencakup pemberantasan IUU Fishing, tata kelola perikanan, budidaya berkelanjutan, dan perlindungan laut," tandas presiden kelahiran Solo ini.


Sumber