Menteri PUPR: Bendungan Passeloreng Rampung Juli 2018: Perbedaan revisi

Dari Jokopedia
Lompat ke: navigasi, cari
(←Membuat halaman berisi ':''Untuk informasi lebih lanjut mengenai Menteri PU Pera, silakan kunjungi artikel Basuki Hadimuljono'' Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki...')
 
(Tidak ada perbedaan)

Revisi terkini pada 20 April 2017 22.34

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Menteri PU Pera, silakan kunjungi artikel Basuki Hadimuljono

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, meninjau pembangunan Bendungan Passeloreng di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan Rabu, 19 April 2017.

Pembangunan infrastruktur bendungan memang menjadi prioritas untuk mendukung program Nawacita yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. Proyek ini penting guna menyimpan cadangan air saat musim kemarau dan mengairi sawah irigasi. Menteri Basuki menjelaskan, saat ini waktunya untuk menggenjot pembangunan infrastruktur, termasuk pembangunan bendungan, karena akan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

Bendungan Passeloreng merupakan bagian dari 49 bendungan baru yang dibangun pada masa Kabinet Kerja. Konstruksi pembangunan yang dimulai 1 Juni 2015 ini dilakukan oleh PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk - PT. Bumi Karsa dengan nilai kontrak Rp 701 miliar. Daya tampung bendungan sebesar 138 juta meter kubik dan direncanakan dapat mengairi irigasi seluas 7 ribu hektare, air baku 305 liter per detik dan mengurangi banjir di Kabupaten Wajo.

"Dalam pembangunan Bendungan Passeloreng, kita terapkan kerja dengan 3 shift selama tujuh hari dalam seminggu dan progresnya telah mencapai 54%. Progresnya bagus, kami targetkan bisa selesai lebih cepat yakni Juli 2018 sudah dapat diselesaikan," ungkap Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, Rabu, (19/4/2017).

Saat meninjau, Menteri Basuki Hadimuljono bersama Gubernur Sulawesi Selatan Yasin Limpo secara simbolis melaksanakan dimulainya pengalihan aliran sungai (river closure) Sungai Gilirang ke saluran pengelak Bendungan Passeloreng, di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

"Pengalihan aliran sungai itu merupakan langkah pertama pengerjaan Bendungan Passeloreng. Pembangunan bendungan ini cukup cepat dibanding pengerjaan salah satu bendungan di daerah lain yang progresnya hanya 12 persen," kata Menteri Basuki.

Nantinya, akan ada lima kecamatan di Kabupaten Wajo yang akan dilayani kebutuhan airnya dari Bendungan Paselloreng. Lima kecamatan tersebut, yakni Gilireng, Penrang, Majauleng, Sajowangi dan Takalala, yang selama ini hanya mengandalkan area sawah tadah hujan.

Dalam kesempatan tersebut Basuki membandingkan jumlah bendungan Indonesia dan Cina yang memiliki 100 ribu bendungan, sedangkan Indonesia baru memiliki 231 bendungan. "Dalam lima tahun kedepan akan kita bangun 49 bendungan baru," lanjut Menteri Basuki.

Jumlah bendungan di Sulsel sendiri, kini sudah ada empat dan akan terus bertambah untuk mendukung sektor pertanian dan perkebunan yang tersebar di 24 kabupaten/kota di Sulsel. Adanya bendungan akan memberikan pengairan secara berkesinambungan untuk sektor pertanian, sehingga dalam dua tahun mampu mendukung panen hingga lima kali.

Pembangunan Bendungan Paselloreng merupakan wujud nyata yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan air pada daerah pertanian agar hasilnya dapat meningkat. Provinsi Sulsel merupakan salah satu lumbung pangan nasional terbesar, sehingga dengan adanya Bendungan Paselloreng dapat meningkatkan taraf hidup petani dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Sumber