Luhut Binsar Panjaitan: Perbedaan revisi

Dari Jokopedia
Lompat ke: navigasi, cari
(Gebrakan)
(Gebrakan)
Baris 16: Baris 16:
 
*[[Presiden Jokowi Tetapkan Daftar 111 Pulau Kecil Terluar Indonesia]]
 
*[[Presiden Jokowi Tetapkan Daftar 111 Pulau Kecil Terluar Indonesia]]
 
*[[Komitmen Indonesia Kurangi Sampah Plastik pada PBB]]
 
*[[Komitmen Indonesia Kurangi Sampah Plastik pada PBB]]
 +
*[[Pemerintah Rilis Peta Baru NKRI]]
  
 
==Gebrakan Peralihan Jabatan Menjadi Menko Kemaritiman==
 
==Gebrakan Peralihan Jabatan Menjadi Menko Kemaritiman==

Revisi per 17 Juli 2017 01.47

Berkas:Luhut.png
Luhut Binsar Panjaitan

Jenderal TNI (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan adalah Mantan Kepala Staf Kepresidenan dalam masa pemerintahan Jokowi - Jusuf Kalla. Pada 12 Agustus 2015 ia ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan menggantikan Tedjo Edhy Purdijatno kemudian pada tanggal 27 July 2016 dilakukan reshuffle kabinet menjadi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menggantikan Rizal Ramli

Ia menjadi terkenal karena menjadi salah satu tokoh Golkar yang paling awal menunjukkan dukungannya ke Jokowi pada masa Pilpres. Akibatnya ia lalu mengundurkan diri dari Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, dan kemudian menyusul setelahnya anggota Golkar lainnya yang dipecat seperti Nusron Wahid dan Agung Laksono. Luhut menggalang dukungan melalui kelompok relawan Bravo 5.

Sebelum ditunjuk sebagai Kepala Staf Kepresidenan, Luhut Pandjaitan pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan Tahun 2000 - 2001 saat Abdurrahman Wahid menjabat sebagai Presiden RI 1999 - 2001. Ia juga pernah menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura.

Luhut Binsar Panjaitan lahir di Namora, Silaen, Toba Samosir, Sumatera Utara, 28 September 1947

Gebrakan

Gebrakan Peralihan Jabatan Menjadi Menko Kemaritiman

Masa kecil dan pendidikan

Luhut merupakan anak pertama dari lima bersaudara pasangan Bonar Pandjaitan dan Siti Frida Naiborhu. Ia sekolah di Bandung, di SMA Penabur. Di sinilah ia kemudian menjadi salah satu pendiri Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) yang menghimpun pelajar dan mahasiswa menentang Orde Lama dan PKI.

Pandjaitan adalah lulusan terbaik dari Akademi Militer Nasional angkatan tahun 1970. Pada Tahun 1967, Luhut masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) bagian Darat dan 3 tahun kemudian meraih predikat sebagai Lulusan Terbaik pada tahun 1970, sehingga mendapatkan penghargaan Adhi Makayasa. Selanjutnya ia banyak menghabiskan perjalanan kariernya di Kopassus.

Selama menjadi anggota ABRI, ia mengikuti pendidikan sebagai berikut:

  • Masters in Public Administration, George Washington University, Washington DC, Amerika Serikat.
  • National Defense University, Amerika Serikat.
  • Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SESKOAD).
  • Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI), Penerima penghargaan Adhi Makayasa untuk lulusan terbaik AKABRI bagian Darat (1970).
  • Sekolah Staf Dan Komando ABRI (SESKO ABRI)
  • Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANNAS)

Ia juga mengikuti pelatihan sebagai berikut:

  • Royal Army Special Air Service (SAS), Inggris (1981).
  • Shooting & Anti-Terror Instructor Training, Jerman Barat (1981).
  • Counter-Terrorism and Special Operations Course, Grenzschutzgrupppe 9 (GSG-9) German Federal Police, Jerman Barat (1981).
  • US Army Air Borne, Pathfinder, And Ranger Course, Fort Bragg And Fort Benning, Amerika Serikat (1976).
  • Free Fall Instructor Course, US Army Special Forces, Fort Bragg, Amerika Serikat (1976).
  • Mobile Trainning Team (MTT) Instructor Course Golden Knight, US Army Special Forces, Fort Bragg, Amerika Serikat (1978).
  • HALO Jumpmaster Instructor, US Army Jumpmaster School, Amerika Serikat (1980).
  • US Army John F. Kennedy Special Warfare Center and School (US. Army Special Forces Course), Fort Bragg, Amerika Serikat (1978).
  • Bomb Disposal Instructor Training, US Army Special Forces, Fort Bragg, Amerika Serikat (1977).

Karier

Namanya melejit setelah ditunjuk sebagai Duta Besar untuk Singapura pada tahun 1999 untuk menormalkan kembali hubungan Indonesia dan Singapura yang sempat tegang setelah Suharto turun. Ia berhasil menunaikan target tugasnya dalam 3 bulan.

Karier Militer

Luhut memulai kepemimpinannya dengan menjadi Komandan Peleton I/A Group 1 Para Komando, Kopassandha. Pada 1976, ia menjadi Komandan Kompi Pasukan Pemburu Kopasshanda Pada Elemen Satgas Tempur Khusus, Pada Operasi Seroja dan meraih penghargaan komandan terbaik. Pada tahun 1986, ia menjadi Komandan Satgas Tempur Khusus Pasukan Pemburu Kopassus Di Sektor Tengah Khusus Timor Timur dan kembali berhasil menjadi komandan satgas terbaik. Ia juga sempat beberapa kali mengisi posisi di Badan Intelijen dan Strategis (BAIS) ABRI.

Terakhir, sebelum mulai menjadi Duta Besar, ia menjabat Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklat TNI AD), dan pada tahun 1999 telah mencapai pangkat Jendral.

Karier Politik

Ia mulai memasuki dunia politik dengan diangkat menjadi Duta Besar untuk Singapura oleh Habibie. Tugasnya cukup berat karena harus memperbaiki hubungan RI dan Singapura yang terganggu sepeninggal Mantan Presiden Suharto. Tugasnya diselesaikan dengan baik dalam 3 bulan. Di masa pemerintahan KH Aburrahman Wahid, ia dipercaya menjadi Menteri Perdagangan dan Industri Republik Indonesia, untuk kurun waktu 2000 hingga 2001. Pemerintahan selanjutnya pernah menawarkannya posisi serupa setelah Gus Dur turun, namun ditolaknya demi menjaga etika.

Pada 12 Agustus 2015 ia ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan menggantikan Tedjo Edhy Purdijatno.

Hubungan dengan Prabowo

Ia pernah menjadi atasan Prabowo selama berkarier di militer. Ia mengakui tahu persis dari A sampai Z Prabowo. "Pak Prabowo, wakil saya, mungkin lebih dari empat, lima tahun. Dan sudah sejak dari pangkat Letnan saya kenal dia, sehingga saya tahu persis "A" sampai "Z"," ungkap Dewan Pengarah Tim Sukses Jokowi-JK ini.

Kehidupan Pribadi

Ia menikah dengan Devi Simatupang dan memiliki 4 anak, yaitu: Paulina, David, Paulus dan Kerri Pandjaitan.

Sumber