Kemenag Wisuda 136 Hafidz Quran dan Lepas Mereka Belajar ke Turki: Perbedaan revisi

Dari Jokopedia
Lompat ke: navigasi, cari
(←Membuat halaman berisi ':''Untuk informasi lebih lanjut mengenai Menteri Lukman Hakim Saifuddin, silakan kunjungi artikel Lukman Hakim Saifuddin'' Kementerian Agama (Kemenag) melalui Dit...')
 
(Tidak ada perbedaan)

Revisi terkini pada 12 Juli 2017 03.57

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Menteri Lukman Hakim Saifuddin, silakan kunjungi artikel Lukman Hakim Saifuddin

Kementerian Agama (Kemenag) melalui Ditjen Pendidikan Islam bekerjasama dengan Yayasan Pusat Persatuan Kebudayaan Islam Indonesia – Turki (UICCI-United Islamic Cultural Centre of Indonesia-Turkey) kembali mewisuda 136 santri penghafal Alquran (Hafidz Alquran). Para santri yang diwisuda hari ini juga sekaligus dilepas oleh Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin untuk melanjutkan pendidikan di Turki. Kerjasama ini didasari atas komitmen bersama Kementerian Agama dan UICCI untuk mencetak kader kiai dan ulama yang mempunyai kapasitas pemahaman Alquran secara mumpuni.

Dalam sambutannya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengapresiasi Pemerintah Turki dan Yayasan UICC, atas kerjasamanya dalam mencetak generasi Qurani yang diharapkan akan ikut membangun peradaban dunia. Kepada para santri, Menag berpesan untuk menggunakan kesempatan belajar ini dengan baik. Alquran yang dihapal merupakan sumber pengetahuan yang juga harus dipahami, diamalkan dan diajarkan kepada masyarakat.

“Sebagai duta bangsa, jangan lupakan identitas keindonesiaan kita, sebagai bangsa yang memiliki nilai keagamaan yang tinggi, tebarkan lah ajaran-ajaran Islam dengan penuh kasih sayang. Jaga nama baik Indonesia. Jaga corak keislaman masyarakat Indonesia yang ramah, sopan santun, dan penuh kasih sayang,” pesan Menag kepada wisudawan, di Jakarta, Selasa (11/07).

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin mengatakan, kerja sama ini sudah berjalan selama tujuh tahun. Hingga tahun 2017, jumlah pesantren Sulaimaniyyah di Indonesia sebanyak 29 pesantren dengan jumlah santri 1.700 santri. Dari jumlah itu, santri yang sedang belajar di Turki sebanyak 325 santri. Selain itu, 120 santri sudah selesai dari Turki dan sekarang tersebar di pesantren-pesantren Sulaimaniyah di Asia Pasifik.

Kamaruddin juga mengatakan, sesuai nota kesepahaman bersama dari dua belah pihak, santri program ini akan mengikuti proses pembelajaran selama dua tahun di pesantren-pesantren Sulaimaniyah yang tersebar di Indonesia. Setelah itu, dilakukan seleksi ulang terhadap mereka untuk menentukan siapa yang akan lanjut belajar di Turki selama dua tahun.


Sumber